
T@juK
- Demokrasi (13)
- Opini (12)
- Refleksi Kehidupan (12)
- sastraMinahasa (12)
- Pemilukada (11)
- OpiNi MinaHasa (10)
- syair (9)
- Menulis Kreatif (8)
- Minahasa (8)
- Refleksi Teologis (6)
- Politik (5)
- ekologi (5)
- self development (3)
- Leadership (2)
- Link (1)
Minggu, 30 Maret 2025
๐๐ป๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐๐ธ๐ ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ

Kamis, 02 Mei 2024
Litani Sang Fana dan Sang Waktu
Sang Waktu, menjawab: "Tidak! Itu hanya perasaanmu saja. Aku sejak dahulu kala, hanya berjalan normal, tidak melambat, tidak juga mempercepat langkahku."
"Ah, mengapa tanggal dan bulan yang sama di tahun yang lalu, kini aku jumpai lagi, padahal waktu itu, seperti baru kemarin? Doa dan asa sepertinya baru saja terucap, apalagi terjawab," tanyaku lagi.
Lalu, Sang Waktu berucap sambil tersenyum. Katanya: "Coba kau urai, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari yang telah kau lewati. Engkau akan berjumpa dengan seribu jawaban dari satu permohonan doa!"
Lalu, aku pun mencoba mengeja waktu, sebagaimana saran Sang Waktu. Dan, ternyata benar, di setiap detik yang kulalui, selalu saja ada jawab terhadap doa dan asa. Setidaknya, lebih dari satu tarikan nafas, dan detak jantung di setiap detik. Yah, sejuta jawab atas doa dan asa tentang nafas kehidupan. Dan ternyata, tentang doa dan asa, aku hanya meminta bukan setiap detik, tetapi mungkin hanya sekali setiap hari, mengawali tidur malamku.
Sang Waktu tersenyum sambil mengeja satu kalimat dengan sejuta makna: "Bersyukurlah kepada Tuhan!"
Aku, Sang Fana. Bersyukur di detik ini. Terima kasih Tuhan untuk sejuta jawaban dalam sedikit permohonan dan setitik asa ๐
*Jakarta, 02052024*
Minggu, 16 Juli 2023
Sajak-Sajak Pengharapan
"Sajak-sajak karya Meidy Yafeth Tinangon bertemakan tentang asa, atau harapan, atau pengharapan"
1. Biarlah Asa Terus Mengalir
(MYT, Mei 2023)
Biarlah asa mengalir.
Meskipun gerbang tertutup,
selalu ada jalan untuk sebuah asa tentang kebajikan.
Mengalir.
Biarlah asa tetap mengalir.
Meskipun kerikil dan batu menghadang,
selalu ada segenggam semangat di balik asa yang terjaga.
selengkapnya di Kompasiana (Klik di Sini):
===
2. Kuasa yang Membunuh Asa
(MYT, Mei 2023)
istana itu bukan sekedar tiang,
mahkota itu bukan sekedar lambang,
senjata itu bukan sekedar alat perang
Gembira riang! Mereka telah menang!
Mengalahkan sebuah cahaya terang
Menghapus wajah-wajah senang
Mengubah diri insan yang tenang
selengkapnya di Kompasiana (Klik di Sini)
===
3. Selalu Ada Cahaya Asa
(MYT, April 2020)
Hanya ada gambaran buram tentang hidup yang tercedrai
Laut mengamuk gelombang mendera, awan hitam mendung durjana
Terik mentari membakar badan, kelam malam menutup pandang
Irama alam hempaskan tubuh insan penghuni bumi
Menusuk kalbu, merobek asa, membunuh semangat, membius nalar
Kapan semua akan berakhir ? Sepanjang hayat dikandung badan ?
Ah tidak ! Selalu ada cahaya asa dalam gelap paling kelam !
....
Selengkapnya di Kompasiana (Klik di Sini)
4. Semoga
(MYT, Mei 2023)
Gelap kan berganti benderang
Bintang-bintang kan menari riang
Mentari kan bersinar terang
Wajah-wajah kembali riang
Semoga...
Jejak-jejak membekas indah
Menghapus segala gundah
Jalan derita terlewati sudah
Jejak juang kan berakhir indah
Selengkapnya di Kompasiana (Klik di Sini)
===
5. Kepergian, Kenangan dan Harapan
Tentang kepergian, seperti biasa, kau menyampaikan salam, mengecup mesra kening kekasih hatimu, lalu dia berkata: "Hati-hati di jalan." Engkau pun pergi, meninggalkan seberkas senyum penuh harapan, bergegas melangkahkan kaki, penuh sejuta semangat. Engkau biasanya, pergi untuk sebuah juang jejak kebajikan.
Tapi kepergianmu kini sungguh beda. Tak sempat kau memberikan kecupan, apalagi pesan. Tak ada langkah kaki yang penuh semangat mengejar impian. Engkau sedang berjuang melawan sakit di ragamu, lalu tetiba memejamkan mata, terbaring kaku, tanpa tarikan nafas, apalagi seuntai kata. Engkau pergi meninggalkan kefanaan dunia.
Selengkapnya di Kompasiana (Klik di Sini)
Senin, 27 Juli 2020
Corona oh Corona (2)
Kumpulan Puisi tentang dan di Masa Pandemi Covid-19
![]() |
"Covid prayer" || www.thenivbible.com |
![]() |
| ilustrasi || https://temporarylumps.com | |
Senin, 08 Juni 2020
Corona oh Corona (1)
![]() |
"fight together against Covid-19" || by. Meidy Y. Tinangon |
Wabah yang meluas atau pandemi salah satu strain virus Corona telah menghantui seantero dunia, tak terkecuali Indonesia. Hingga saat ini jumlah warga yang positif Covid-19, penyakit akibat infeksi virus tersebut terus bertambah. Corona oh corona. Keluh kesah, asa dan doa, ku tuangkan dalam bait bait syair berikut ini.
1). (Hai Covid) Kami Baik-baik Saja!
Hai Covid...
Kami baik-baik saja |
Sekalipun pandemi yang kau bawa tak kunjung pergi |
makin digenggam hirup dan sebar oleh insan tanpa sadar ataupun bebal |
Kami baik-baik saja |
Sekalipun nyawa melayang pergi tanpa ritual kultural religi |
Pun, tanpa bunga terakhir tanda kasih orang-orang tercinta |
Kami tahu hidup mati di tangan Sang Kuasa, pun juga sorga neraka |
Bukan olehmu hai mahluk mikro setengah hidup |
Kami baik - baik saja |
Jangan kau paksa kami takut dan panik hingga saling bunuh |
Dan kau tertawa disamping mayat kami |
2). Bait-bait Covid Satu Sembilan
Cina, negeri dimana kau dilahirkan itu dikenal karena obat, motor, gadget dan temboknya, makin terkenal, sedot perhatian dunia karena lahirmu di Wuhan adalah awal sebuah kata viral mematikan: Pandemi !!!
Orang-orang tak pandang bulu kau siksa dengan demam, sesak napas hingga hembuskan napas terakhir dan kembali ditelan bumi tanpa ritual dan ucap kata perpisahan orang tercinta
Vatikan, Roma, Barcelona, London, Washington, Yerusalem, Mekkah, Jakarta dan lorongpun sunyi tak berkutik, hanya ada senandung harap dan doa, dan mungkin mimpi manusia terkarantina, bahwa pandemi hanya mimpi
Isolasi yang dahulu hanya ku kenal dalam praktek mikrobiologi ataupun virologi ilmu tentang duniamu itu, kini menjadi jalan yang harus kami lalui di ruang sunyi tanpa kekasih sambil menunggu nasib entah positif atau negatif, sembuh merdeka atau.... ma ...ti !!!
Dirumah aja kami mengurung diri sambil berharap kau tak bertamu di rumah kami yang kini berubah jadi benteng terakhir lawan pandemi, tapi juga rumah doa dan rumah cinta kasih mesra, yang dahulu sebelum hadirmu hanya menjadi ruang sunyi yang membosankan...
1 harap dan keyakinan badai pandemi yang kau bawa pasti berakhir, harap dan doa kepada Sang Maha Kuasa pun Pengampun, jika pandemi adalah hukuman, ampuni kami atas dosa dan bebal kami para pendosa di planet bumi...
9 April dua ribu dua puluh kau infeksi satu juta lima ratus ribu manusia di planet bumi, cukup sudah duhai Corona, kembalilah kau ke planetmu, jangan kau buat planet kami tercinta kosong tanpa manusia, kami berjanji kan kembali belajar mencinta dan berlaku ramah dengan bumi, ibu kami milik Sang Pencipta, yang harinya, hari bumi kami rayakan 22 April tahun ini sunyi karena pandemi....
3) Hari Minggu Tak Biasa yang Luar Biasa
Selamat Hari Minggu!
Happy Sunday!
Itu salam yang biasanya menggema indah ditelinga kami,
ataupun juga, biasanya menari gembira sebagai pesan singkat
ataupun status medsos di hape kami,
setiap saat ketika Hari Minggu tiba
Tapi hari minggu ini,
tak biasa sebagaimana biasanya
Tak ada langkah kaki membonceng sepatu, melangkah pasti menuju gedung Gereja,
mengejar waktu sebelum om kostor bunyikan lonceng
hingga berdentang tiga kali: "teng!, teng! teng!"
Tak ada salam sapa: "selamat hari Minggu," sambil ulurkan tangan tuk jabat tangan,
dari Bapak-Ibu berkalung stola putih yang kami sebut Penatua atau Syamas,
yang setia bertumpu pada dua kaki yang mulai rapuh dimakan usia,
hanya untuk menjemput kami di depan pintu Gereja
Tak pernah kulihat lagi Bapak dan Ibu berjubah hitam, putih atau ungu,
naik ke mimbar di depan sana sambil berdoa dan berkhotbah,
ntuk wartakan Kabar Baik bagi kami yang seringkali tak baik-baik saja
Tak pernah lagi kidung pujian kami kidungkan bersama-sama,
sambil berdiri tanpa jarak di bagian depan gedung Gereja
Tak ada lagi langkah pasti umat sambil menggenggam rupiah,
yang kami jadikan korban syukur atas berkat Tuhan
Tak ada lagi, banyak hal lain yang biasanya kami nikmati
disetiap hari Minggu, hari mulia, hari Tuhanku, di gedung Gereja,
sebelum pandemi memaksa kami mengurung diri
Tapi, ada banyak hal yang luar biasa yang terjadi di rumah kami,
ketika rumah gantikan fungsi gedung Gereja
Tak ada hari Minggu seperti biasa di Rumah Gereja
tapi ada hari Minggu luar biasa di Rumah kami, Gereja kami,
karena aku, kau dan dia, juga kita dan mereka adalah Gereja !
Hari Minggu ini tak biasa tapi luar biasa !
karena Tuhan luar biasa! Terpujilah Dia selama-lamanya!
Tetaplah bersukacita dalam pandemi dan ucapkan salam sukacita damai sejahtera,
seperti biasa:
"Selamat Hari Minggu, Syaloom, damai di hati, damai di bumi!"
Jumat, 01 Mei 2020
25 Karya Efek #StayAtHome di Bulan April
![]() |
| ilustrasi || toolfarm.com | |
Menulis bukan sekedar hobi bagi saya. Menulis merupakan cara untuk berbagi ilmu, pemikiran, semangat dan inspirasi kehidupan. Bentuk tulisan yang banyak saya tulis adalah dalam bentuk puisi, selain artikel opini.
"Saya bukan penyair hebat, hanya penikmat bait kata indah penuh makna dan berharap rangkaian kata yang sederhana bisa membawa inspirasi bagi yang membaca"Jika sobat pembaca berkenan menyimak sebagai bahan bacaan #StayAtHome, klik saja judul/link di bawah ini:
1. (Hai Covid) Kami Baik-baik Saja! [15.04.2020]
2. Selalu Ada Cahaya Asa [17.04.2020]
3. Kuasa [18.04.2020]
4. Doa [18.04.2020]
5. Darah, Dosa dan Pengampunan [19.04.2020]
6. Kau [20.04.2020]
7. Kuatir [20.04.2020]
8. Bait-bait Covid Satu Sembilan [21.04.2020]
9. Kartini Tak Pernah Mati [21.04.2020]
10. Sajak untuk Mama (Apa Kabar Kau yang Disana) [21.04.2020]
11. Sembahyang Kehidupan [23.04.2020]
12. Doa Sang Bumi untuk Penghuninya [23.04.2020]
13. Madah untuk Secarik Kertas Tanpa Napas [23.04.2020]
14. Menjemput Senja Penuh Makna di Minawanua [24.04.2020]
15. Mengejar Sang Mimpi [24.04.2020]
16. Aku Diam Bukan Berarti Mati Tanpa Arti [26.04.2020]
17. Hari Minggu Tak Biasa yang Luar Biasa [26.04.2020]
18. Pesta Kami, Duka Sang Raja [26.04.2020]
19. Kepada Kawanku Kompasianer [27.04.2020]
20. Tentang Hidup [28.04.2020]
21. Untuk Sobatku di Garda Terdepan Pandemi [28.04.2020]
22. Ketika Hari Baru Kunikmati Lagi [28.04.2020]
23. Untuk Kawanku Juru Warta [28.04.2020]
24. Aku Ternyata Maling [29.04.2020]
25. Kau Hilang dalam Ada-mu [30.04.2020]
Ada 25 totalnya, hehehe lumayan. Semoga bisa menginspirasi, menghibur dan menemani masa masa di rumah aja. Karya-karya ini sebagiannya adalah karya lama yang disunting lagi, untuk menyesuaikan dengan konteks kini. Ayo tetap produktif #StayAtHome #StayProductive
Kamis, 09 April 2020
Menatap Cahya Harapan #DirumahAja
![]() |
Cahya Rembulan di Kelam Malam (Rinegetan, 9 April 2020) |
Sabtu, 04 Januari 2020
KUASA
Rabu, 01 Januari 2020
Narasi dan Aksi
Ada sembah sujud syukur...
Ada untai kata selamat...
Ada jabat tangan...
Ada langit bertabur kembang api...
Narasi dan aksi semarak setiap tahun baru...Namun,
Setelah semua narasi dan aksi itu
Para aktor kembali dengan akting tak terbarukan...
Narasi berbalut ego
Tanpa syair maaf dan terimakasih
Hanya syair keakuan dan keangkuhan
Hanya hipnotisme orasi silat lidah
Aksi berbalut keangkuhan
Lakon licik namun asyik
Meracik racun di wadah madu
Singkirkan lawan dan juga kawan
Yah...
Narasi dan aksi tanpa tranformasi setelah megah pesta tahun baru...
Baru tahunnya lama lakonnya...
Ah...
Semoga tahun baru ini benarlah baru...
Narasi dan aksi saling merangkul
Hadirkan syair cinta kasih sepanjang hari Lakonkan jabat tangan sepanjang masa Menyatukan segala beda
Aksi ulur tangan untuk yang lemah
Hingga suatu saat, entah tahun kapan
Ketika tubuh menjadi debu dan jiwa menjemput keabadian
dengan penuh kedamaian disuatu ruang hidup abadi bernama sorga....
Selamat menjemput tahun baru dengan spirit narasi dan aksi baru...
Kebaruan yang menghidupkan ...
***Seper Watu, Rinegetan Tondano
01 Januari 2020
Jumat, 30 Maret 2018
Darah, Dosa dan Pengampunan
Kini…Adakah mereka yang Kau tebus lunas berlaku kudus
memeluk mesra ego, menepis empati tak berhati
Aku adalah aku… mereka adalah mereka…
D O A
Mata menutup rapat
Jumat, 22 Desember 2017
Sajak untuk Mama
(Sajak untuk Mama)
Mama...
Apa kabar Kau di negeri sana?
Ingin ku bersua denganmu
Mengulang memori yang tak lekang oleh waktu
Memori di masa kecil
Saat kau curahkan kasih nan tulus
Saat kau peluk daku penuh kehangatan
Saat kau iklaskan juangmu hanya untuk anak-anakmu
Saat kau lupakan lelah ragamu untuk buah hatimu
Apa kabar kau yang disana??
Rindu diri disampingmu
Hanya tuk cicipi lezat masakanmu
Hanya tuk ucapkan terimakasih yang tak sempat terungkap
Hanya tuk tunjukan buah juangmu
Hanya tuk memberimu hadiah yang tak mampu balas kasihmu
Hanya tuk meminta nasehatmu
Hanya tuk blajar sabarmu
Hanya tuk tahu rahasia kerja kerasmu
Hanya tuk blajar gaya hidup apa adanya
Hanya tuk blajar bersyukur dalam susah dan senang
Hanya tuk merengek meminta smangat juangmu
Apa kabar kau yang disana ???
Duhai kau pahlawanku
Kuharap di doamu namaku tetap kau sebut
Kuharap kau slalu tiupkan angin bawa titipan semangatmu
Kuharap di jauh sana kau kan tersenyum
Hingga suatu saat nanti kita kan bertemu di jauh sana, dalam damai di pelukmu
Yah di jauh sana, disuatu tempat entah dimana, yang disiapkan Sang Khalik...
Terimakasih mama.... Suatu saat rinduku kan terjawab, bersama kau di jauh sana... Di negeri mulia penuh kedamaian....
#SelamatHariIbu
Rabu, 17 Agustus 2016
Asa Untukmu Merah Putih
Merah putih, kau yang lahir oleh tetesan darah pahlawan, Janganlah jadi pembawa mati, tumpahkan darah anak negri....
Merah putih, kau yang dirajut pendiri negeri berbeda bangsa, yang berikrar satu INDONESIA. Tetaplah jadi tempat merajut indah benang hidup tanpa memandang ragam....
Merah putih, kau yang kuhormati dibawah terik matahari pun siraman air hujan.
Tetaplah jadi yang kuhormati, karena kau jadi satu mentari yang tetap adil, pancar cahaya untuk si miskin, juga si kaya.
Tetaplah jadi yang kami banggakan karna kau sirami kami
basah dengan air kehidupan.
Merah putih, kau yang berkibar indah perkasa di angkasa penuh kuasa.
Tetaplah jadi sang penguasa gagah perkasa di istana, sambil memandang kami yang tak kuasa menahan rasa, menebar asa ntuk perkasa dalam naungan Indonesia,
yang penuh daulat demi rakyat, yang memberimu kuasa....
Tetaplah berkibar merah putihku, dan kobarkan semangat kami
dengan kibarmu yang membawa kabar damai sejahtera...
Kamis, 01 September 2011
Doa Kehidupan
Senin, 04 April 2011
Menulis Kreatif: Tips Menulis Puisi
![]() |
|eastgreenwichnews.com| |
Kita banyak mengalami pengalaman hidup yang sangat berkesan dalam perjalanan hidup ini. Sayang jika pengalaman itu berlalu tanpa meninggalkan bekas. Apalagi kalau pengalaman itu bisa bermanfaat bagi orang lain atau berpotensi merubah cara pikir orang lain.Untuk bisa bermanfaat bagi dokumentasi pribadi atau untuk kepentingan orang lain, maka pengalaman atau pandangan kita tentang pengalaman hidup, apa yang kita saksikan dan alami, dapat kita tuangkan dalam bentuk tulisan kreatif. Salah satu bentuknya adalah puisi.
Seorang penulis puisi atau penyair tidak akan meremehkan pengalaman-pengalamannya. Segala sesuatu yang dilihat dan dialaminya selalu tidak luput dari perhatiannya. Dia menjadikan semua itu sebagai sesuatu yang bermakna bagi orang lain.
Banyak orang berpikir bahwa menulis puisi itu rumit. Padahal jika kita telah mencobanya, kerumitan yang terbayangkan itu akan menjadi keindahan yang nyata. Untuk membantu anda menulis, perlu diketahui unsur - unsur apakah yang membentuk sebuah puisi ?
Secara umum orang mengatakan bahwa sebuah puisi dibangun oleh dua unsur penting, yakni bentuk dan isi. Waluyo (1987) berpendapat bahwa struktur fisik puisi terdiri atas baris-baris puisi yang bersama-sama membangun bait-bait puisi. Adapun unsur-unsur fisik yang termasuk dalam struktur fisik puisi menurut Waluyo adalah: diksi, pengimajian, kata konkret , majas, versifikasi dan fipografi. Selain itu masih ada unsur yang lain yaitu sarana retorika.
Berikut diuraikan unsur-unsur tersebut:
1. Diksi
Diksi atau pilihan kata mempunyai peranan penting dan utama untuk mencapai keefektifan dalam penulisan suatu karya sastra. Untuk menggunakan diksi dengan baik, penulis harus memahami masalah kata dan maknanya, tahu mengaktifkan kosa kata, memilih kata yang tepat dan sesuai dengan situasi dan mengenal corak gaya bahasa sesuai tujuan penulisan.
2. Pengimajian
Imaji (image) digunakan untuk memberi gambaran yang jelas dan membuat lebih hidup gambaran dalam pikiran untuk menarik perhatian pembaca. Pengimajian merupakan sarana utama mencapai kepuitisan.
3. Kata Konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang diungkapkan penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca.
4. Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif membuat puisi memancarkan banyak makna atau kaya makna. Jenis bahasa figuratif misalnya adalah simile, metafora dan personifikasi.
5. Versifikasi
Versifikasi meliputi ritma (irama), rima (rhytme, pengulangan bunyi di dalam baris puisi) dan metrum (irama yang tetap).
6. Tipografi
Merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama.
7. Sarana Retorika
Merupakan pola atau gaya yang merupakan keistimewaan, kekhasan seorang pengarang. Sarana retorika disebut juga sebagai muslihat pikiran yang berupa bahasa yang tersusun untuk mengajak pembaca berpikir.
Demikian unsur-unsur pembentuk puisi semoga bermanfaat bagi calon penyair. (***)